Senin, 30 Juli 2018

Tuamese, Primadona Baru penggiat Selfie

Bukit Tuamese. Destinasi ini merupkan sebuah bukit kecil yang berada di sebelah barat tambak ikan bandeng dan udang air payau. Terletak di Desa Tuamese Kecamatan Biboki Anleu Kabupaten Timor Tengah Utara. Tempat ini berjarak kurang kebih 87 km dari kota Kefamenanu ibu kota  Kabupaten Timor Tengah Utara atau 280 km dari Kota Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur dan lama perjalanan dari kota kupang menuju kota Wini berkisar 6,5 jam jika perjalanan tanpa henti. sedangkan dari Wini ke Tuamese waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam.


Team Kloter Pertama
Team My Trip My Tapaleuk (MTMT) kali ini melakukan Expedisi dalam rangka berburu Swafoto (Selfie) di bukit Tuamese terbagi menjadi 2 team. Kami sebagai Team pertama dengan menggunakan 3 mobil yakni Datsun Go+, Avanza serta Innova dan Team kedua menggunakan 5 mobil Jeep masing2 Cha Rais+Oltry and crew (Jeep Willlys), Sahel Djawas+Yeni and crew (Jeep Mambo), Radial Abubakar+Kiki and crew (SUV Mitsubishi Starda), Dullah Djawas+Didi (Jeep Willys) and crew serta Adi Lay and crew (Daihatsu Taff Rocky).


Narsis di Jembatan Noelmina-Takari
Pada tanggal 21 Juli 2018 jam 09:15 Team pertama MTMT berjumlah14 personil beranggotakan saya, Ira, Nadya, Haimin, Atya, Holia, Gian dan Ica serta 6 Orang cowok memulai perjalanan dari kota kupang menuju kota Lintas Batas (Cross Border) Wini Humusucey Indonesia dengan Enclave Oekusi Negara Timor Leste setelah melewati Oesao dan Desa Camplong Kecamatan Fatuleu tepatnya Pukul 10:04 kami istirahat sejenak dan berfoto ria diatas jembatan Noelmina Kecamatan Takari. Selanjutnya rute perjalanan berikut menuju kota Soé Kabupaten Timor Tengah Selatan yang kami tempuh selama kurang lebih 45 menit dan  tiba pukul 10:40 kami menabah bahan bakar di SPBU kota So'e sebenarnya bahan bakar mobil kita masih cukup banyak hanya sekedar penuhi tangki dan Rest sekalian memanfaatkan Toilet di SPBU ini, Agar Waktu tidak molor team pertama MTMT ini kemudain melanjutkan perjalanan menuju Desa Niki-Niki Kecamatan Amanuban Tengah. 

Sebelum melanjutkan perjalanan dari SPBU kota So'e tersebut saya menitip pesan kepada rombongan team agar kita mencari tempat yang cukup nyaman di sepanjang jalan di daerah niki-niki untuk istirahat makan dengan bekal ransum makan yang telah dimasak oleh ibunya Andi dan ibunya Nadya-Atya. Team MTMT memang selalu memanfaatkan alam terbuka untuk istirahat dan makan karena disnilah kita membangun karakter dan hubungan kita dengan Alam dalam suasana yang bersahaja.


Setelah istirahat makan siang di pinggir jalan Ahmad Yani luar kota Niki-niki kami kembali melanjutkan perjalanan menuju daerah sasaran berikutnya yaitu kota Kemenanu (Kefa) dengan elevasi +/- 400 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL) di kota Kefamenanu kami beristirahat di Taman Kota Jl. Patimura sambil merekam Video Kiki Challenge - Do You Love Me yang lagi viral di berbagai mancanegara dengan bintangnya Haimien. Scane pengambilan video Kiki Challenge ini ada bagian yang lucu sehingga membuat seluruh anggota team segar kembali. Komunkasi dengan Team Kedua telah terkonfirmasi Armada rombongan yang sedang menyusul Team kami kini berada di daerah Camplong akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Selanjutnya perjalanan diteruskan dari kota kefamenanu menuju kota Wini karakter jalan yang banyakan menurun karena elevasi kota Kefa berada di ketinggian sedangkan kota Wini yang berada di pesisir pantai dengan ketinggian +/- 5 MDPL dan jarak tempuh +/- 45 km kami libas dengan waktu 1 jam saya sengaja membawa rombongan sedikit cepat tapi tidak ngebut lho pertimbangan  waktu yang semakin sore.

Rute perjalanan kefa-wini sangat berkelok-kelok dengan sudut tikungan yang cukup ekstrim melalui perbukitan dan lembah2 bahkan dibeberapa badan jalan telah mengalami longsor akibat erosi tanah yang tergerus air hujan. Saking banyaknya tikungan jalan antara kota kefa-wini membuat saya menamakan rute jalan ini dengan sebutan rute jalan seribu bok (tikungan). Bagi teman-teman pencinta Blok MTMT kami sarankan apabila melewati rute ini sebaiknya kondisi fisik kamu harus fit dan tidak ngantuk serta menjaga kecepatan kendaraan kamu agar tidak terlalu negbut mengingat medan jalannya yang berkelok2 itu bisa sangat beresiko jika kita lengah.

Jam 15:17 Team Pertama MTMT Ekpedisi  Tuamese memasuki kota Wini dan tanpa membuang waktu saya
langsung membawa rombongan untuk menyewa kamar penginapan di Marjon Resort satu-satunya hotel/penginapan di kota wini. Harga kamar permalam Rp. 275.000,- dan kalau ditambah Extra Bed kita harus merogoh kocek tambahan Rp. 75.000,- . Sebenarnya para Srikandi Tapaleuk dalam Team Pertama ini beberapa kali meminta agar kita berkemah saja agar lebih berkesan tapi kali ini saya tolak karena kalau saya hitung total anggota gabungan Team Pertama dan Team Kedua berjumlah 36 orang. Wooou pasti kerepotan nanti kalo-kalo ada yang membutuhkan Toilet dan Air untuk keperluan memasak dan lain sebagainya sehingga saya putuskan menginap di Resort tersebut.

Pukul 15:30 Selesai memesan kamar seluruh anggota Team Kloter pertama memutuskan melanjukan perjalanan ke Bukit Tuamese. Perjalanan dari Resort Marjon menuju bukit Tuamese cukup bagus hampir seluruh badan jalan sudah diaspal, rute perjalanan ini melalui Tanjung Bastian, kemudian melewati desa Ponu dan masuk Desa/Kelurahan Tuamese yang masih dalam satu kecamatan Biboki Anleu. Jembatan Ponu yang sempat terputus dari puncak musim penghujan awal  tahun ini kini telah diperbaiki dengan menimbun tanah sehingga seluruh kendaraan bisa melewati jembatan tersebut.

Setelah menempuh jarak 35 km kamipun belok kiri memasuki jalan tanah atau tepatnya pengerasan jalan sepanjang +/- 6 km, ini adalah jalur menuju tambak bandeng dan udang di desa Tuamese atau kuan kefa dimana terdapat bukit yang jika kita menghadap ke arah timur dari atas bukit ini akan terpampang panorama indah antara genangan air yang dijadikan tambak dengan bukit2 yang menyerupai pulau2 menyuguhkan Pemandangam yang indah jika dijadikan latar belakang swafoto/selfie dan keindahannya hampir menyerupai Panorama dari bukit pulau Padar di daerah wisata Labuan Bajo. 

Team Pertama MTMT ini menggunakan kendaraan bukan type jeep sehingga mobil kami harus dikemudikan secara perlahan agar tidak terguncang hebat ataupun merusak suspensi kendaraan kami. 

Lahan Parkir dan Jajanan Penduduk setempat
Pukul 15.50 Sesampainya dilokasi kami langsung disambut oleh para penduduk yang kemungkinan
rumahnya disekitar lokasi dibawah bukit kecil Tuamese ini dengan ramah sambil mengarahkan mobil kita menempati area parkir yang telah disediakan.dan ternyata sudah banyak pengunjung yang tiba terlebih dahulu dilokasi baik yang sedang rehat/beristirahat di lahan parkir namun tidak sedikit yang masih berada di atas bukit dengan kesibukannya masing2 mengambil angle foto terbaik dengan berlatar belakang panorama lembah tambak bandeng dan udang Tuamese tersebut.

Mengingat waktu yang sudah mendekati senja kamipun dengan sigap beranjak menaiki bukit kecil tersebut dengan melalui jalan setapak. Diatas bukit ini terdapat 3 titik lokasi pemotretan dengan ketinggian berbeda2. Semuanya berlatar belakang tambak dan bukit berbentuk pulau yang sama, Saran saya manfaatkan ke tiga lokasi tersebut biar bisa mendapat posisi panorama foto yang terbaik menurut kamu tapi satu hal yang harus menjadi perhatian teman2 adalah hati-hati menapaki jalan diatas bukit ini karena tidak ada pegangan atau pagar sehingga apabila  terpeseset bisa berakibat fatal.

Tak terasa sudah mentari secara perlahan kembali ke peraduannya dan kami pun sadar senjapun akan segera tiba menyelimuti pertiwi hingga saya segera mngarahkan kamera foto kearah ufuk barat untuk mengabadikan sunset dari bukit Tuamese.
Para pengunjung pun secara teratur satu-perasatu mulai menuruni bukit setelah puas memotret dengan berbagai gaya. Tak terhitung berapa kali saya telah memencet timbol shutter kamera saya maupun Handphone teman2 Team MTMT yang berpose dengan berbagai gayanya yang manja maupun pura-pura serius.

Matahari telah menghilang di ufuk barat dan beberapa anggota team sudah lebih dahulu turun menuju parkiran kendaraan untuk bersiap kembali ke hotel tempat kita akan menginap nanti malam. Lahan parkir kendaraan pengunjung tempat kita memarkir kendaraan dijaga oleh penduduk setempat dengan imbalan biaya parkir permobil sebesar Rp. 5.000,-. per-mobil.

Pukul 18: 15, Team MTMT kembali menuju Resort tempat kita menginap di kota Wini dan di pemukiman sekitar Tanjung Bastian saya sempat membeli ikan hasil tangkapan Nelayan setempat untuk bekal makan malam nanti karena di hotel tersebut kami hanya disediakan sarapan pagi sementara makan siang dan malam harus mencari sendiri atau memesan di hotel dengan bayaran terpisah.

Tanjung Bastian ini adalah aset Pemda TTU yang dahulu adalah salah satu Primadona Destinasi Wisata Pantai di Kabupaten TTU. disini setiap tahun dijadikan Event Tetap Pacuan Kuda, Lokasi  yang unik di dekat pantai dan para joki kuda saat perlombaan sangat tradisional karena tidak menggunakan Pelana Kuda serta tanpa alas kaki pula. 
Dahulu tempat ini banyak dikunjungi Turis dari Manca Negara namun kini lokasi wisata Tanjung Bastian bagaikan tempat sampah dan kandang hewan dan seakan sengaja dibiarkan terlantar.

Pukul 18: 50, Kita kembali lanjutkan cerita perjalanan MTMT menuju tempat penginapan untuk istirahat dan menyiapkan makan malam nanti mengingat cadangan makan yang kita yang menipis akhirnya ikan tongkol pisang yang kita beli di tanjung bastian menjadi lauk utama kami. Rencananya ikan tersebut akan kita goreng menggunakan kompor gas minyak tanah namun kompor tersebut di titip pada mobil jeep Willys Aba Dullah Djawas dan Team kedua yang saya konfirmsi dalam perjalanan telah mendekati kota Wini ya kita sabar menunggu hingga sekita pukul 08:00 Team kedua MTMT Explorer Tuamese tiba di Penginapan dengan selamat.
Jumlah anggota pada Team Kedua sebanyak 22 orang jadi total MTMT Explore Tuamese kini setelah digabungkan menjadi 36 orang. Suasana di Resort ini makin ramai karena Team Pertama dengan Aktivitas Goreng ikan begitu juga dengan Team kedua mulai mengeluarkan bekal makanan untuk makan malam bersama. Teras kamar hotel menjadi dapur dadakan ada yang mengelar alas di teras hotel sementara para wanita dan ibu-ibu memakai kamar hotel untuk membersihkan diri.

Malam makin larut Team Kedua yang baru tiba mungkin karena kelelahan memutuskan tidur lebih cepat sedangkan team pertama yang sudah banyak istirahat memilih bermain kartu Uno di lopo dekat Pantai. 
Ide bermain Kartu Uno ini adalah Holia Gazali Anggota Termuda di Team MTMT dan saya dengan penasaran ingin diajari cara bermain Kartu Uno. Holia, Gian dan Haimien bergantian mengajari metode dan trik bermain Kartu Uno dan Gian lah yang paling Intens membimbing saya hingga mahir bermain kartu Uno tersebut. 
Serunya Permainan Kartu Uno ini sambil meledek pemain yang kalah dengan hukuman jongkok sangat ceria dan jenaka hingga tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 02:15 dini hari dan kamipun memutuskan untuk istirahat

Minggu, Tanggal 22 Juli 2018, Jam 07:15 Saya membawa Team Kedua kembali ke Bukit Tuamese untuk be Swafoto di bukit tersebut dengan mengendarai 5 mobil Jeep beriringan menuju Tuamese. Sesampainya dilokasi hari masih pagi dan pengunjung pertama yang sampai di lokasi ini adalah saya bersama Team Kedua. Kesempatan ini tidak disia-siakan mengingat Matahari pagi yang bersinar Terik saya mengarahkan Anggota Team Kedua ini untuk segera mendaki Bukit tersebut untuk mengambil foto. Terdengar keluhan jenaka pada anggota Team karena harus mendaki bukit dalam kondisi panas terik matahari pagi namun semangat tidak kendur sesampainya diatas bukit sayup terdengar kalimat terpana menyaksikan Panorama lekukan tambak dengan barisan bukit2 menyerupai Pulau nan indah. karena saya sudah banyak berfoto ria kemarin sore kini saya hanya sebagai juru foto mendokumentasi seluruh anggota team yang meminta foto dengan kamera DSLR yang saya bawa

Pikul 10:30, Saya bersama Team Kedua Kembali ke Penginapan untuk pesiapan makan siang dan Cek Out dari Hotel menuju sasaran berikut yakni Cross Border Wini Humusu C  / Humusucey. 
Tempat ini adalah Perbatasan Resmi ke 3 dari 3 Perbatasan antara Timor Barat  NTT - Indonesia dengan Enclave Oekusi Negara Timor Lest, dua perbatasan lain adalah Batugade dan Motamasin.

Team Kedua yang baru sampai di Hotel memutuskan untuk menyiapkan Makan Siang sementara Team Pertama sudah mempersiapkan diri untuk menuju Perbatasan Humusucey dan saya yang membawa sebagian anggota Team Pertama memutuskan duluan ke Perbatasan sedangkan Team kedua masih beristirahat dan menyiapkan makan siang.

Pukul 12:50, kami (Team Pertama) telah sampai di perbatasan Humusucey.

Perjalanan dari Resort Marjon ke Perbatasan ini tidak lama karena berjarak +/- 3 kilometer dri tempat penginapan. Setibanya di perbatasan dan mengisi buku tamu di Pos penjagaan kami pun diijinkan masuk untuk mengambil foto di Pos didalam kompleks ini yang dibangun dengan megahnya oleh Pemerintah Indonesia. 


Pukul 13:30, Team Pertama akhirnya meninggalkan perbatasan Wini Humusucey kembali menuju Kota Kupang dengan rencana berikut Transit di Kota Kefamenanu untuk istirahat makan.

Demikian Teman-teman Tapaleuk yang setia membaca Blog ini semoga cerita perjalanan kali ini dapat menjadi referensi wisata kalian. Sampai jumpa di Trip berikutnya salam MTMT (My Trip My tapaleuk), Tapaleuk yang bermanfaat.










Selasa, 20 Februari 2018

Pantai Oetune dan Kolbano (Coming Soon)

NANTIKAN...!!!
Pantai Wisata Primadona di Pantai Selatan Pulau Timor.


Pantai Oetune terletak di kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berjarak 115 km dari Kota Kupang dan jika kita menggunakan kendaraan roda empat dapat ditempuh selama 2 Jam 30 Menit melalu Jalan Timor Raya sampai jembatan Noelmina Takari, 150 meter setelah jembatan Noelmina (di dari Cabang Batu Putih) lalu berbelok ke kanan menuju Desa Bena. Perjalanan dari cabang batu putih menuju Pantai Oetune berjarak +/- 50 km. sebagian besar jalan desa bena sampai Oetune 








Ekspedisi Fatu Monas dan Gunung Timau (Coming Soon)

Menatap Alam Semesta dari Sabana Fatumonas 
Manatap Jagad Raya dari Sabana Fatumonas.












Segudang Cerita dalam Trip ke Litas Batas Motamasin. (coming soon)

Nantikan....!!! 
Rangkaian Kisah kunjungan ke Lintas Batas (Cross Border) Motamasin 




Kamis, 08 Februari 2018

FULAN FEHAN Tanah Para Leluhur

22 April 2017


Haaaiii Sobat Tapaleuk tercinta, sudah cukup lama saya absen menulis blog kita mytapaleuk.blogspot.com padahal selama waktu absen posting tersebut cukup banyak tempat yang telah kita jelajahi di daratan pulau Timor yang menawan ini dan berikut saya akan menceritakan pengalaman mengunjungi Sabana Fulan Fehan di Kabupaten Belu yang berjarak +/- 30 km daru Kota Atambua.

Ceritanya bermula dari Event Atambua Adventure Offroad yang ide penyelenggaraannya diprakarsai oleh Sdr. Helmy Pratama (Amy) seorang Pengusaha muda yang yang bermukim di kota Atambua. Amy sangat mengandrungi event Adventure dan Offroad kendaraan roda empat bertype SUV (Sport Utility Vehicle) maupun dengan Motor Jenis Sport-Trail

Amy adalah teman lama didunia otomotof baik di roda 2 maupun roda 4. Kami selalu berkunsultasi dan bertukar pikiran mengenai rencana penyelenggaraan Event Adventure Wisata di Kabupaten Belu. Jalur konsultasi terus kami bangun baik melalui Telp, SMS dan media Sosial (WA maupun Facebook-Messenger). Banyak sudah masukan dan ide2 yang dibahas sebelum event terwujud dari mencari Sponsor, pendekatan kepada Pemda setempat maupun rencana mengundang teman2 Pencinta Otomotif roda empat dari daratan Timor dan juga dari Negara tetangga Timor Leste. Setelah matang dalam perencanaan Team MTMT diundang untuk membantu sekaligus mengikuti rangkaian jalannya acara Atambua Adventure Offroad yang diselenggarakan pada tanggal 22 s/d 23 April 2017.

Pada penyelenggaraan Event Atambua Adventure Offroad (AAO) tersebut Panitia Setempat berhasil menggandeng Dinas Pariwisata Kabupaten Belu dan Wonderful Indonesia dibawah naungan Kementrian Pariwisata (Kemenpar). Sesuai judulnya Wonderful Indonea yang berarti Pesona Indonesia tentunya sasaran kegiatan ini adalah memperkenalkan Spot Wisata yang pastinya sangat menakjubkan dan mengusik kalbu di Kabupaten Belu dengan sasaran para Wisatawan Luar Negeri agar tertarik berkunjung ke Indonesia dan menikmati Pesona Alam Indonesia.

Event Atambua Adventure Offroad dikemas dengan tantangan medan Offroad yang akan dilibas oleh para peserta dengan menggunakan kendaraan Offroad dibagi dalam 4 etape. Pada etape Pertama tanggal 20 April 2017 peserta dipimpin Bupati Belu dengan menumpang kendaraan UTV (Utility Task Vihicle).

Mobil UTV sendiri sering digunakan untuk event-event yang sifatnya memamerkan perfoma dan keahlian pengemudi dalam melibas medan-medan terjal, ganas dan curam seperti media tebing pegunungan yang basah dan lembab. Rincian etepenya inilah yang sangat menarik minat Team MTMT untuk ikut serta dalam event Off Road berpadu Spot Wisata.

Setelah mencermati rute Wisata yang dikombinasikan dengan Rute Adventure OffRoad yang akan ditempuh sebanyak 4 Etape yakni :

Etape Pertama : dari Kota Atambua menuju Air terjun Mauhalek

Etape Kedua : Menuju Sabana Fulan Fehan dan Benteng 7 Lapis di kaki gunung Lakaan.

Etape Ketiga : Fulan-Fehan menuju Desa Naikesa Kec. Tasifeto dan Bermalam sambil menyiapkan kendaraan peserta

Etape Keempat : memasuki hari ke dua yang lebih menantang dan penuh rintangan untuk menuju Lapangan Simpang Lima sebagai Lokasi Finish, kamipun bersepakat untuk berangkat menuju kota Atambua.

Team MTMT yang kali ini terdiri dari 3 orang yakni (Neni Rais, Adith Alhabsyi dan Ajub Radjab) dengan menggunakan mobil Avanza bertiga memulai perjalanan dari kota Kupang pada hari kamis 20 April 2017 saat jam menunjukkan pukul 19:15 dan menempuh 277 km atau kurang lebih 5 jam perjalanan akhirnya pukul 12:05 Team MTMT tiba di kota Atambua itupun kami sempat mampir di kota dingin So'e untuk instirahat dan makan malam sejenak dirumah makan Padang. Di kota Atambua kami bertiga bermalam dirumah Ami yang juga digunakan sebagai Posko atau Sekretariat Event Atambua Adventure Offroad 2017.
Keesokan harinya tanggal 21 April 2017 setalah Sholat Jum'at atau pukul 13:30 kami menuju Expresso Cafe untuk mengikuti Press Conference bersama Panitia Penyelenggara, Kementrian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Kab. Belu beserta sejumlah Wartawan Media cetak dan televisi Belu. Saya selaku Perwakilan peserta dari Kota Kupang didaulat untuk bersama Panitia, Perwakilan dari Kementrian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Kota Atambua untuk melakukan Press Conference kepada sejumlah Wartawan Media Cetak dan Elektronik yang sudah menunggu di tempat tersebut.

Dalam Press Conference tersebut saya memberikan informasi keda media terkait jumlah peserta dari Kota kupang kurang lebih 40 kendaraan yang sebagian besar masih dalam perjalanan menuju kota atambua untuk mengikuti even sesuai jadwal akan dilepas dan diikuti oleh Bapak Bu[pati Kab. Belu Besok Pagi Tanggal 22 April 2017 serta menghimbau kepada seluruh Panitia agar mengingatkan kepada seluruh peserta khusunya yang dari Luar Kab. Belu untuk menghormati dan mematuhi Kearifan Lokal yang selama ini dijaga oleh penduduk dan pemuka Adat setempat dapat terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama demi kelancaran jalannya Event.




Tanggal 22 April 2017, Dari Lapangan olah raga Simpang Lima Kota Atambua setelah acara seremonial yang dipimpin langsung oleh Bapak Bupati Kab. Belu Peserta yang berjumlah +/- 70 kendaraan melakukan pawai selebrasi dan promosi dalam kota Atambua selanjutnya melintasi rute menuju Air terjun Mauhalek di kecamatan Lasiolat sekitar 30 km dari kota Atambua. Jam menjunjukkan 12:42 rombongan tiba di Air terjun ini dan peserta diberikan waktu +/- 30 Menit beristirahan dan menikmati sejuknya air terjun Mauhalek.

Rute perjalanan dari Kota Atambua ke lokasi Ait Terjum Mauhalek terbilang baik sebagian besar jalan sudah beraspal dan dibeberapa tempat sedang proses pelebaran jalan yang direncanakan akhir tahun 2017 selesai di aspal Hotmix, Waaah makin mudah ya bagi Visitor dan teman-teman MTMT nanti untuk berkunjung atau berwisata ke Air terjun ini. Terima kasih Bapak Bupati Belu yang sangat memperhatikan dan bekerja keras membuka akses jalan ke berbagai tempat tujuan wisata di Kabupaten Belu.

Untuk mencapai Air terjun ini dari area parkir kendaraan cukup menguras tenaga khususnya saat akan naik kembali karena letaknya agak sedikit dibawah lembah tapi karena jalur pejalan kaki telah dibuat tangga sampai ke tepi air terjun sehingga memudahkan pengunjung mencapainya dan tidak perlu takut licin sekalipun lagi hujan, namun MTMT menyarankan tetap harus hati2 dan focus bila perlu berpegangan saat menggunakan tangga yang terbuat semen di lokasi air terjun.

Jam 13:23. Selanjutnya rombongan Adventure bersama Bupate Belu melanjut perjalanan menuju Padang Fulan Fehan dataran Sabana di Punggung bagian Timur Gunung Lakaan yang penuh Mistis sepanjang jalur jalan dari Air terjun Mauhalek selalu menajajak hingga sampai di pintu masuk menuju Padang Fulan Fehan dan jam menujukkan pukul 13:54. Seluruh rombongan peserta Adventure Offroad beristirahat sambil menunggu Bapak Bupati yang sedang bersilaturahim dengan pemangku adat yang menjadi tetua penjaga gunung Lakaan namanya Tisi Antak Neán (Kepala-kepala suku) setempat, selanjutnya Peserta Adventure memulai pendakian dengan kendaraan masing-masing menuju Padang Sabana Fulan Fenan tak ketinggalan Bapak Bupati juga ternyata terus menemani Peserta.

Jalur pendakian dengan kendaraan menuju sabana terbilang cukup terjal mungkin lebih mudah kalo berjalan kaki (sayangnya jaraknya sangat jauh jika berjalan kaki harus menempuh +/- 6 km) sapai ke padang sabana. Badan Jalanpun terbilang kurang bagus untuk dilewati kendaraan jenis MPV (Multi Purpose Vihicle) apalagi jenis Sedan. MTMT menyarankan memakai kendaraan SUV atau jenis Jeep jika ingin mengunjungi Padang Fulan Fehan dan Benteng 7 Lapis. Karena saat Perjalanan ini seluruh peserta Adventure Offroad menggunakan Kendaraan type Jeep / SUV sehingga tidak ada kendala dalam rute di etape kedua ini.

Eh, bicara Benteng Tujuh Lapis sekalian ya MTMT ceritakan sedikit, di lokasi punggung Gunung Lakaan ini ada sebuah Objek Wisata penuh sejarah secara turun-temurun dijaga dan dikeramati yang bernama Benteng tujuh lapis berada di bersebelahan dengan Padang Fulan Fehan Desa Birun. Benteng ini menurut legenda sudah ada ribuan tahun sebelum Penjajah Portugis menginjak kakinya di Tanah Belu. Benteng ini sebenarnya bernama banteng Makes namun karena bentuknya yang terpagar dari batu sebanyak 7 lapis berbentuk lingkaran bertingkat tujuh atau tujuh tingkat pertahanan yang tersusun rapi dan kuat berpusat di lingkaran ke tujuh yang disebut dengan Saran Mot. Jikalau di amati lebih mendalam susunan batu yang membentuk banteng ini seakan tidak mungkin dilakukan oleh tangan manusia saat dulukala yang belum tersentuh teknologi seperti sekarang ini sehingga oleh masyarakat setempat diyakini ada bantuan makluk gaib dalam pembentukannya.

Situs Benteng Tujuh Lapis ini masih dalam bentuk asli semenjak kejadiannya dan untuk mengunjunginya harus melalui upacara adat yang dilakukan oleh Tisi Antak Neán, jalan masuknya harus melewati Pintu Gerbang dari kayu bersilang hingga pintu Utama. Inilah salah satu Kearifan lokal yang harus diperhatikan saat memasuki Saran Mot dan apabila dilanggar konon pengunjung akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Masih banyak yang ingin digambarkan mengenai Banteng Makes Tujuh Lapis dan Saran Mot serta bagian-nya, detailnya MTMT akan mengulasnya nanti (In Box aja ya di kolom Komentar).

Kembali ke Padang Sabana Fulan Fehan. Ini lah salah satu Padang Sabana terbaik di Pulau Timor dengan elevasi 1.254 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL) dan dataran sabana tertingginya berkisar 2.891 MDPL. Bulan Maret merupakan puncak peralihan musim Penghujan dan musim kemarau di Pulau Timor dan di Bulan april ini Vegetasi tumbuhan masih segar hijau dedaunan sehingga menambah kecantikan dan keindahan hamparan Sabana di Fulan Fehan.


Satu hal yang menjadi tanda tanya bagi Team MTMT adalah Tumbuhan Kaktus (Cactaceae) yang biasanya hidup di daerah kering (gurun) dan minim air namun didataran Tinggi Fulan Fehan yang Sejuk ini tumbuh subur tumbuhan Kaktus dan berbunga dengan indahnya. Vegetasi Tumbuhan Kaktus ini banyak dijumpai sepanjang jalan mendekati padang sabana Fulan Fehan hingga sekeliling sabana pun tumbuh subur pohon kaktus ini. inilah ciri khas Sabana Fulan Fehan jika dibandingkan dengan Sabana Gunung Mutis atau fatu Monas


Sabana Fulan Fehan sangat dilindungi dan dipelihara dengan baik Pengunjung dilarang membakar kayu atau membuat perapian dan kendaraan roda empat atau mobil dilarang menginjak padang Rumputnya. Kendaraan Pengunjung akhirnya diparkir di sisi-sisi jalan saja. Nah mengingat suhu di malam hari pada daerah diketinggian 1.200san MDPL pasti dingin dan berkabut apalagi kalau hujan wah bias kacau semua jadi untuk berkemah di padang sabana Fulan fehan ini Pengunjung harus mempertimbangkan Pakaian Pelindung dari dingin karena kita tidak boleh membakar apalagi membuat api unggun sebagai penghangat paling banter membawa peralatan masak modern seperti Kompor Minyak Tanah atau Listrik itupun jika kita sempat membawa serta mesin Genersator Listrik (Genset).

Seluruh Peserta dengan tertib memarkir kendaraan Jeepnya di sisi-sisi jalan dan dengan antusias serta dengan takjub turun dari kendaraan masing-masing untuk menikmati indahnya suasana dan pemandangan sabana Fulan Fehan.Pemandangan Padang Sabana Fulan Fehan sangat Menakjubkan, beberapa Turis Asing khusunya dari benua Eropa menggambarkan Sabana Fulan Fehan yang terbentang luas dan berbukitan bak bukit Teletubis itu dengan suhu udara yang dingin kadang berkabut bagaikan kembali ke suasana pedesaan Eropa. Ternak Sapi penduduk yang dilepas dan merumput di padang sabana membaur dengan Kuda liar yang dengan santainya minum di embung-embung kecil yang dibuat secara alami.


Saya bersama Adith Alhabsyi mengambil kesempatan mengexplore sabana Fulan Fehan dengan bantuan kendaraan Motor Trail milik Panitia yang dikendarai oleh Om Epis mengantarkan kami berdua menuju bukit sabana Fulan Fehan. Cukup Jauh juga sambil meliuk-liuk mencari jalur jalan yang tidak tergenang air akhirnya +/- 1 km menuju bukit teletubis Sabana Fulan Fehan akhirnya di ketinggian pertama bukit sabana ini.



Dari kejauhan terlihat seluruh kendaraan Jeep Peserta Atambua Adventur Offroad parker dan para Peserta yang bersantai di padang rumput sambal menikmati sugukan makan siang yang sudah disediakan oleh Panitia. sementara yang lain masih asik dengan kesibukannya sendiri2, ada yang selfie adapula anak2 yang berlari dan bercengkerama di Padang sabana yang hijau bak permadani Raksasa yang dihamparkan.


Kekaguman kami menikmati Sabana Fulan Fehan dari Ketinggian sambil dibelai tiupan sepoi angin dingin dan terkadang sekelompok kabut melewati kami sambal mengelus dengan meninggalkan bekas kelembaban di sekujur pakian dan tutbuh kami yang terbuka sungguh tak terbayarkan. Di Dataran Pulau Timor yang terkenal Panas dan Gersang ini ternyata ada tempat yang begitu indah dan nyaman serta sejuk untuk dinikmati. Tuhan adalah Maha Karya yang takterbantahkan dan tak tertandingi.

Dari atas bukit ini terpampang dengan jelas Gunung tertinggi 19 di NTT dan tertinggi ke 3 di Pulau Timor yakni Gunung Lakaan dengan ketinggian 1.200 MDPL. MTMT ingin membagi informasi bahwa Gunung tertinggi di NTT adalah Gunung Mutis dengan Elevasi 2.427 MDPL di Bonleu Tobu Kab. TTS (Gunung ini sudah 2 kali saya mendaki hingga Puncaknya di tahun 2016 dan 2017 dengan temperatur dimalam hari berkisar +/- 10 Derajat Celcius), baca Pendakian Gunung Mutis juga ya.

Nah bercerita mengenai Gunung Lakaan yang sudah turun-temurun dikisahkan oleh para penjaga atau Juru Kunci Gunung Lakaan yang diceritakan kembali oleh Juru Kunci Andreas Mali Manek usia +/- 79 tahun) bermula dari Pulau Timor yang masih tergenang air dan satu-satunya dataran yang kering adalah puncak gunung Lakaan. Puncak ini berkilau seperti Bintang kemilauan. oleh karena itu oleh pelaut jaman dulu di juluki Sa Mane Kmesak (Sang Putra Tunggal), Baudinik Kmesak (Bintang Tunggal/Satu-satunya), Foho Laka-an (Bercahaya Sendiri), Naksinak-an (Bersinar Sendiri).

Karena Puncak Gunung Lakaan yang muncul pertama kali setelah seluruh permukaan bumi ditutupi air bah (Mungkin itu di jaman Nabi Nuh kali ya) sehingga Sukubangsa Tetun menjuluki Puncak Gunung Lakaan Ibarat Biji Mata Ayam (Foin Nuú Manu Matan), Bagaikan Belahan Pinang (Foin Nuú Bua Klau), Laksana Segumpal Nasi (Foin Nuú Etu Kumun) atau Seperti Pusar Uang Perak (Foin Nuú Murak Husar). Julukan tersebut dilanjutkan dengan Mak Nahu (Dialah yang Memulai), Mak Namata (Dialah yang Awal), Rai Husar (Dialah Tanah Pusar), Rai Binar (Dialah Tanah Kaum Kerabat semua Saudara-saudari).

Dalam Legenda cerita rakyat lainnya dikisahkan Bahwa pada suatu hari turunlah Putri Dewata yang bernama Laka Loro Kmesak (dalam bahasa Tetun berarti Putri Tunggal yang tidak berasal-usul) di puncak Gunung Lakaan dan menetap disana. Putri Laka Loro Kmesak berparas Cantik-Jelita dan memiliki Kesaktian yang sangat luar biasa. Karena Kesaktiannya itu Sang Putri dapat melahirkan anak dari suami yang tidak pernah dikenali orang dan karena itula Sang Putri Laka Loro Kmesak dijuluki dengan nama Nain Bilak-An yang artinya Berbuat sendiri atau Menjelma sendiri). sedangkan sang Suami yang tidak pernah dikenali orang kelak dijulukan dengan Manu Aman Lakaan Naín (Tuan dari Puncak Jago Lakaan)

Putri Dewata Laka Loro Kmesak melahirkan 4 orang keturunannya masing-masing yaitu 2 laki-laki (Atok Lakaan dan Taek Lakaan) dan 2 perempuan (Elok Loa Lorok dan Balok Loa Lorok).

Setelah keempat putra-putri ini dewasa mereka dikawinkan oleh ibunya karena di puncak gunung tidak ada keluarga lain. Atok Lakaan kawin dengan Elok Loa Larak dan Taek Lakaan Kawin dengan Balok Loa Lorok. Kelak keturunan Manu Aman Lakaan inilah yang memenuhi Tanah Belu, Timor Leste, Dawan, Rote, Sabu, Larantuka atau Lamaholot di Pulau Flores bagian Timur (baca terus kisahnya dibawah ini).

Menilik kisah leluhur dari Manu Aman Lakaan di atas, kita mengerti bahwa generasi inilah, yang merupakan penghuni asli dan pertama di pulau Timor. Karena leluhur Putri Dewata Laka Loro Kmesak tidak berasal dari tempat lain, tetapi turun ke puncak Gunung Lakaan, maka Beliau dijuluki Turu-Monu … menetes dari atas, jatuh dari atas. Semua generasi Turu-Monu inilah yang kelak dijuluki: Fohonain, Rainain, pemilik gunung, pemilik tanah, Ainain, Fatuknain, Pemilik Pohon Besar, Pemilik Batu Besar.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketika seluruh tanah Timor mulai terlihat, karena air mulai mengering, sebagian anak-anak dan cucu-cucu dari Puncak Gunung Lakaan pun mulai menyebar, tidak hanya di sekitar kaki Gunung Lakaan, namun juga sampai ke Mandeu, Naitimu, Lidak, Jenilu, Lakekun, Litamali, Alas, Biboki, Insana, Wehali, Maukatar, Lubarlau, Ramelau, Sabu, Rote bahkan Flores.

Eeeeh, kalo udah nulis mengenai cerita Rakyat bisa-bisa ngak akan habis nih. Gini saja ya kalo pengen nyambung ceritanya dimasukin aja di kolom komentar ya nanti MTMT akan menceritakan lebih banyak lagi mengenai leluhur Tanah Lakaan ini.

Selanjutnya Kami berdua di jemput kembali dari bukit Teletubis Padang sabana Fulan Fehan dengan Motor Panitia bergabung dengan Peserta Atambua Adventure Offroad yang telah selesai menyantap makan siangnya dan sekitar jam 15:37 Rombongan peserta Adventure melanjutkan perjalanan sesuai rute yang telah di tetapkan oleh Panitia melalui medan Off Road menyeberangi Kali dan sungai kecil serta Jembatan yang putus menuju Etape selanjutnya.

Begitulah Kisah Gunung Lakaan yang menjadi cerita rakyat turun-temurun sebagai cikal bakal Tanah para Leluhur yang keturunannya menyebar sampai ke luar Pulau Timor dan gambaran perjalanan Adventure Off Road ditanah Belu yang seru dan berkesan.

Setelah sampai pada etape ke-3 Team MTMT kembali ke Kota Atambua sementara Peserta Atambua Adventure Offroad bermalam di lokasi yang sudah disediakan oleh Panitia untuk melanjutkan Rute pada Etape ke-4 menuju Garis Finis di Lapangan Olah Raga Kota Atambua keesokan Hari tanggal 23/04/2017.

Sedangkan Kami Bertiga dari Team MTMT kembali ke Kota Kupang pada Malam Hari tanggal 22/03/2017 meninggalkan Kota Atambua dengan Penuh Kesan dan Pengalaman.

Selamat Jalan Fulan Fehan, Selamat Jalan Kota Atambua nantikan kunjungan kita dilain waktu semoga tetap ramah dan bersahabat dengan kita saat kunjungan berikut nanti.

Salam..... My Trip My Tapaleuk.... Tapaleuk yang bermafaat.

Jumat, 14 Oktober 2016

Pulau Semau - Gugusan Pantai Perawan nan Indah.


Pulau Semau dengan ukuran luas +/- 143 km2 adalah salah satu pulau di wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur terbagi atas 2 kecamatan yakni kecamatan Semau / Semau Utara dan Kecamatan Semau Selatan. Pulau ini dihuni oleh penduduk suku Helong dan terletak di sebelah barat pulau Timor berjarak 15 km dari kota Kupang atau 5 km dari pelabuhan laut Nusa Lontar Kupang.

Pulau ini juga menjadi pelindung bagi kapal-kapal besar maupun perahu nelayan di teluk Kupang dan Selat Semau dari ganasnya terpaan angin Muson Barat (Angin Barat) yang disertai gelombang lautnya yang ganas.

Untuk mencapai Pulau Semau ini dibutuhkan waktu sekitar 30 menit penyeberangan menggunakan perahu kayu yang ditambatkan di sebuah area/dermaga Kapal Landingship Wilayah Otoritas Pelabuhan Tenau Kupang. Perahu-perahu ini memang dikhususkan sebagai alat transportasi komersil penduduk yang bermukim di pulau semau atau dari daratan pulau timor yang juga dapat mengangkut kendaraan roda 2.

Sementara untuk penyeberangan dengan menggunakan kendaraan roda 4 atau mobil dapat menggunakan fasilitas kapal ferry Ile Laba Lekan dengan kapasitas angkut 196 orang, 15 Truk dan sepuluh monil kecil melalui dermaga kapal Ferry di desa Bolok sebelah selatan dermaga Nusa Lontar Tenau Kupang menuju Pelabuhan/Dermaga Kapal Ferry Kauan Hansisi di Pulau Semau.

Pulau Semau ketika kita berada dipesisir pantai kota Kupang maupun Kabupaten Kupang bagian Barat dan Selatan dengan mudahnya terlihat, dulunya pulau ini banyak ditumbuhi pohon Kusambi dan menjadi salah satu daerah pemasok Arang dan Kayu Bakar ke Kupang yang dulu terkenal dengan nama arang/kayu kusambi bahkan hingga saat ini jika kita ingin memanggang atau memasak menggunakan bara api atau tungku masak trandisional bahan baku yang dicari adalah arang kusambi atau kayu kusambi.

Dalam sejarahnya Suku Helong yang kini berdiam di pulau semau berasal dari pulau Seram Maluku. Bangsa Suku Seram pada abad ke 16 bermigrasi ke Pulau Timor kemudian menetap di desa Bunibaun lalu mendirikan kerajaan Helong dan memerintah di Timor Bagian Barat dan Pulau Semau. Berkembangnya kerajaan Helong/Kupang bak magnet yang menarik suku Rote, suku Pita’i, suku Taebenu, suku Sonbai dan suku Am’abi mendatangi wilayah kekuasaan Kerajaan Helong atau lebih dikenal dengan Raja Kupang ini. 

Pada tahun 1917 Kerajaan Kupang menjadi federasi yang terdiri dari kerajaan kecil  antara lain : Sonbai Kecil, Amabi, Amabi-Oifetto, Foenay, TaEbenu dan Helong.Raja Don Daud Hanoch Tanof, Fetor dari TaEbenusebagai penguasa senior yang menjadi raja dari kerajaan bersatu pada tahun 1917 tersebut. Dalam Perkembangan sejarahnya kerajaan Helong ini berpindah ke Pulau Semau semenjak terbentuknya Federasi kerajaan Kupang tersebut dan Semau menjadi salah satu dari tujuh kefettoran (Daerah Raja Muda) yang membentuk Swapraja tersebut.

Penduduk Helong yang bermukim di Pulau Semau ini hidup dari Berladang/Berkebun dan memelihara ternak berupa kambing dan Sapi maupun Babi. Sistem pernatniannya masih amat tradisional dengan metode berpindah-pindah. Hasil pertanian dan perkebunan yang banyak didatangkan ke Pasar kupang berupa Mangga Semau, Poteka (Semangka) Semau dll.

Jika kita membuka topik perbincangan mengenai Pulau Semau bagi sebagian besar warga Kupang sudah mengentahui pulau ini namun hanya segelintir orang yang baru menginjakkan kaki di pulau tersebut. Image atau tanggapan orang tentang Pulau Semau beragam bahkan menjurus "negatif" dengan julukan Pulau Mistik, Pulau Suanggi (Teluh/Santet) bahkan Pulau yang Panas atau pulau Kering yang tidak ada air.

Beranjak dari tanggapan Negatif warga kota Kupang yang "Stereotype" tentang pulau ini akhirnya menggerakkan saya untuk membuka tabir dan wawasan serta informasi apa dan bagaimana sesungguhnya Pulau Semau yang selalu kita pandangi dari Kota Kupang Ibu Kota Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Pada hari Sabtu, Tanggal 08 Oktober 2016 saya memulai Ekspedisi mengelilingi pulau semau dengan mengendarai kendaraan roda 2/Sepeda Motor dengan tujuan meng-Explore Kehidupan, Jalan, Lingkungan dan Pantai-pantai di pulau Semau. 

Adapun Team Ekspedisi MTMT (My Trip My Tapaleuk) kali ini berjumlah 6 orang dengan 3 unit Sepeda Motor sebagai sarana Transportasi melibas jalan-jalan di pulau ini. Tak Tanggung-tanggung untuk membuktikan bahwa pulau semau ini adalah pulau yang indah dan nyaman untuk berwisata atau menikmati keindahannya saya mengajak Bapak Faisal Hasibuan dan Bapak Adam Mateus (Pimpinan dan Manager Operasi dan Pelayanan Bank Bukopin Cabang Kupang) bersama anggota lainnya Debby dan Renny serta Adi seorang teman yang merupakan penduduk asli/kelahiran pulau Semau sebagai Guide dalam Ekspedisi MTMT kali ini.

Team Ekspedisi ini memulai perjalanan dari Kota Kupang saat jam menunjukan pukul 11:00 Wita setelah mampir membeli nasi bungkus di rumah makan padang depan kantor Bupati lama kamipun beranjak menuju pelabuhan Nusa Lontar Tenau Kupang. Dipos Masuk Pelabuhan Nusa Lontar Tenau kami membayar Retribusi masuk pelabuhan selanjutnya kami memacu kendaraan melewati terminal pelabuhan kapal Pelni dan parkir tepat di samping kanan Pelabuhan tersebut sudah tertambat perahu kayu bermesin tempel yang siap mengantar ke Pelabuhan Hansisi di Pulau Semau.

Tawaran dari pengemudi perahu untuk jasa penyeberangan tidak berlangsung lama karena sudah umum diketahui tarif/biaya pengangkutan orang maupun sepeda motor jasa Penyeberangan ini untuk 1 orang biaya-nya Rp. 20.000 dan sepeda Motor Rp. 50.000,- Pergi-Pulang atau bayar setengahnya jika saat pulang nanti kita menggunakan jasa perahu lain.

Sekitar Jam 12:00 Wita akhirnya Team tiba di Pelabuhan Hansisi Pulau Semau Kupang setelah sepeda motor kami diturunkan dari perahun, kami memulai perjalanan meng-explore pulau ini dengan sasaran pertama adalah Pantai Uiasa yang waktu tempuh dari Pelabuhan Hansisi ke Pantai Uiasa sekitar +/- 20 Menit melewati Pantai Koblain.

Dipantai Uiasa ini dulunya terdapat 3 unit Home Stay namun kini sudah hampir tidak terawat lagi namun tetap saja masih ada dan ditempat ini membangkitkan memory 18 tahun lalu kita pernah menggunakan Home Stay ini untuk kegiatan Out Bound dan menikmati Bulan Purnama. Dipantai ini juga telah berdiri sebah home stay baru di ujung pantai/sebelah utara. Home Stay ini bisa disewa bagi para pelancong yang ingin bermalam di Pantai Uiasa. 

Siapa bilang pulau semau kering dan tidak ada air tawar. Di desa Uiasa ini terdapat kolam mata air tawar yang berada samping gereja dan tidak pernah kering walaupun di puncak musim kemarau. Dari sumber air tawar inilah didistibusikan menggunakan pipa-pipa air ke rumah-rumah penduduk di sekitarnya dan menjadi tempat mandi dan cuci pakaian penduduk desa Uiasa.

Kamipun beristirahat dan makan siang bekal nasi bungkus yang di beli dari Kupang dan menikmatinya dibibir pantai sambil memandang indahnya sepanjang pesisir pantai Uiasa serta mengamati Home Stay yang disi bagian utara pantai ini. Sambil berteduh dibawah pohon saya memperhatikan seorang Ibu berusia lanjut (nenek) yang sedah mengais sesuatu dideburan ombak pantai Uiasa. Setelah beberapa lama nenek tersebut menghampiri saya sambil tersenyum dan kamipun mengobrol dan saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menanyakan banyak hal kepada nenek tersebut karena nantinya saya berniat membawa teman2 untuk menginap 1 malam di pulau semau ini seperti 18 tahun yang lalu.

Setelah istirahan dan makan siang di Uiasa Team melanjutkan perjalanan menuju Pantai Letbaun yang berada di Utara dari Pulau ini jarak tempuh dari Pantai Uiasa ke Pantai Letbaun +/- 9 Km namun karena medan jalannya yang menanjak selepas Uiasa dan banyaknya turunan menuju Pantai desa Letbaut ditambah permukaan jalan yang terbuat dari campuran Semen dan Pasir Laut sehingga mudah menelupas meningalkan debu pasir diatas badan jalan sehingga kita harus hati-hati memacu sepeda motor dengan kecepatan lambat demi keselamatan. Diwilayah desa Letbaun relief jalan sudah mulai rata namun karena desa ini berada di pesisir pantai maka badan jalannya berpasir.

Ban motor seringkali selip kami harus menempuh hampir 45 menit baru tiba di pantai ini saat jam menunjukkan pukul 14:05. Menyusuri jalan di Desa Letbaun yang tanpa aspal namun tidak ada tanjakan atau turunan sebagian besar jalannya rata sementara badan jalan hanya berupa pengerasan atau badan jalan yang terbentuk dari lintasan kendaraan kami sempat melewati jalan yang membelah dataran lapang yang rata dengan sedikit pepohonan sayangnya saat ini musim kemaru sehingga rumput sudah mengering dan tampak dataran berwarna cokelat disisi kiri-kanan jalan 

Indahnya Pantai Letbaun ini sesungguhnya melebihi dari Pantai Uisain, sangat memukau dengan variasi warna air laut Biru muda dikombinasi Biru Tosca Tua serta Pasir Pantai Putih berrtabur koral Soft Pink sangat memukau berada di pantai ini. Di Desa Letbaun ini juga terdapat Sumber Mata Air tawar yang terlindungi dalam lubang batu serta cangkang Kerang Mutiara yang disusun sebagai wadah menampung air laut yang dikeringkan guna menghasilkan garam laut. Pantai yang sepi dan benar-benar belum tersentuh tehnologi maju hanya tampak beberapa rumah2 beratap jerami berdinding bebak (pelepah daun lontar) milik nelayan atau penduduk sekitar yang dibuat di pesisir pantai untuk membuat garam dan memelihara rumput laut.

Setelah menikmati pantai Letbaun selanjutnya Team Ekspedisi MTMT melanjutkan perjalanan menuju Pantai berikutnya yaitu Pantai Uihmake berjarak +/- 3 km dari Pantai Letbaun kita mampir sejanak di pantai ini untuk mengambil dokumentasi. Karakter Pantai Uihmake yang berkarang dengan latar belakang dinding batu Besar yang dulunya digunakan sebagai batu sesembahan diseberang jalan di desa Batuinan ini warna air lautnya juga sangat indah perpaduan Hijau muda dan Biru Tosca walau bibir pantai yang berpasir tidak sebera luas namun perpaduan atau kombinasi warna air laut dengan bibir pantai berpasir putih yang menggoda untuk ditapaki dipadu dengan dinding batu persembahan diseberang jalan pantai ini bak maknet yang menarik pengendara saat melewati pantai ini. 

Mengingat perjalan yang masih panjang dan banyaknya spot destinasi yang harus kita kunjungi, maka setelah berfoto sebentar di pantai Uihmake ini Team MTMT melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor melalui tanjakan jalan batu sesembahan menuju destinasi berikutnya. 

Dengan memacu Sepeda motor Team Melanjutkan perjalanan menuju arah Barat Daya setelah menempuh  perjalanan sekitar 1.3 Km dari Pantai Uihmake dan +/- 300 meter setelah melewati sebuah pemukiman di rute ini kami belok ke kanan dan menemui Kayu Penghalang jalan. 

Pantai Batuinan, Pantai ini sepertinya telah dimiliki atau dikuasai oleh seseorang dimana jalan masuk ke pantai ini telah dipasangi palang dari kayu melintangi jalan menuju pantai ini sejauh 80 meter. Kami pun turun dari sepeda motor untuk membuka palang penghalangnya dan terus menuju pantai. Pantai Batuinan dengan garis pantainya sepanjangnya +/- 4 km memiliki pasir yang sangat-sangat lembut dibir pantai dengan rimbunnya pepohonan Perdu dan Pohon Palm di sisi pantai kami benar-benar memanjakan kaki bermain dan memotret di pasir pantai ini sambil sesekali berteduh dibawah rimbunya pohon untuk menghalau panas matahari menyengat tubuh. 

Inginnya berlama-lama di pantai ini menikmati pelukan pasir pada kaki-kaki kami terbenam saat berjalan diatasnya serta hamparan pasir sepanjang pantai yang sangat luas ini sangat menakjubkan.

Pantai Batuinan terletak bersebelahan dengan Pantai Otan dan tanpa terasa jam sudah menjukkan pukul 15:15 Wita dan setelah puas memotret sana-sini Team melanjukan perjalanan terus mengaarah ke pantai tujuan Akhir Ekspedisi ini Yaitu Pantai Liman.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 13 km dari pantai Batuinan dengan bermandikan debu jalan dan ban motor kami yang ngesot sana-sini karena permukaan jalan yang berpasir tercatat beberapa kali hampir membuat kita hampir jatuh bersama sepeda motor yang kita kendarai. Kamipun dengan hati-hati dan waspada mengendarai kendaraan dengan posisi kaki siaga memijakkan permukaan jalan yang berpasir saat ban motor tiba-tiba ngesot atau selip.  

Pantai Otan yang garis pantainya cukup panjang kita lewati tanpa singgah lagi guna mengejar waktu sampai di titik akhir Ekspedisi ini. Sebelum sampai di Pantai Liman kami masih mampir sejenak di sebuah pantai di Otan, Pantai ini berada di balik tebing sebelah kanan jalan saat jam menjunjukkan pukul 15:50 Wita. Pantai yang sedikit tersembunyi ini kami gunakan untuk beristirahat sebentar sambil berfoto-foto.

Selanjunya kami meneruskan perjalana sepanjang +/- 10 Km mengarah ke arah selatan pulau Semau melewati Desa Oetefoe Besar dengan medan jalan yang masih berpasir serta berdebu kami sempat melewati sebuah pantai yang indah di Oetefoe Besar pengennya berhenti sejenak untuk memotret pantai ini namun sepeda motor yang dikendarai Adi sebagai guide terus mamacu akhirnya saya juga mengikuti saja takut ketinggalan jauh.

Setelah menyisir pantai Oetefoe Besar tiba-tiba Adi menghentikan sepeda motornya sambil menunjukkan tangan ke arah selatan sambil mengatakan disana Bukit Liman. 

ASTAGAAAA.... Bagaikan mimpi saja bukit liman tiba-tiba terpampang nyata di seberang sana. Sayapun hampir tak percaya bagaimana bukit ini bisa terbentuk dipinggir pantai bagaikan sebuah gunung vulkanik, Sebuah suguhan pemandangan yang benar-benar membuat takjub melihatnya. Rasa Capek mengedarai sepeda motor dan keringnya tenggorokan selama perjalanan dari Pantai Uiasa seakan hilang seketika. 

Kami berteduh di bawah pohon sambil beristirahat serta memotret bukit liman dari Pantai ini, Jam telah menunjukkan pukul 16:35 Wita.  Diatas Bukit Liman dari kejauhan tampak beberapa orang sudah berada diatas puncaknya. Kami bersepakan untuk menuju Bukit Liman nanti saat menjelang Matahari terbenam di ufuk barat karena Puncak bukit terlihat masih terik di terpa matahari sore sementara tubuh kita dalam kondisi dehidrasi dan kecape'an.

Dipantai Oetefoe Besar ini terlihat sedang dibangun sebuah bangunan dengan beberapa kamar mengarah ke bukit Liman kemungkinan bangunan tersebut dibuat sebagai penginapan atau sejenisnya bagi para pelancong yang ingin menginap di Pantai Oetefoe Besar yang bersebelahan dengan pantai Liman yang kedua-duanya sangat indah ini. Semoga kedepannya nanti sudah ada Home Stay seperti di pantai Uiasa agar para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini bisa menikmati indahnya Sunset  dari Bukit Liman dan deburan Ombaknya dimalam hari.

Waktu pukul 17:10, Matahari sore terlihat makin rendah di Horison Barat mandandakan sebentar lagi Sang Surya akan tenggelam. Kami memutuskan segera mamacu sepeda motor menuju Bukit Pantai Liman melewati pesisir pantai sangat sulit memang melahap jalan berpasir dengan sepeda motor Matic dan ban Slick/licin. Harus Ekstra hati-hati dan konsentrasi penuh karena ban motor yang makin sering ngesot melewati tebalnya pasir di jalan.

Adi yang mengendarai sepeda motor berada dibagian depan mengarahkan kami meliuk mencari jalan yang tapaknya tidak terlalu berpasir agar mudah dilewati. Dibawah bukit liman beberapa orang yang dari kejauhan terlihat dipuncak bukit kini telah turun dan sedang berteduh di bawah pohon menghindari teriknya panas sore hari. 

Tanpa ragu Adi terus memacu sepeda motor menaiki bukit liman hingga puncaknya, saya bersama Pak adam pun terpaksa mengikuti hingga sampai di puncak bukit juga walau sempat ngeri karena tanjakan bukit yang cuikup terjal dan kiri-kanan jalan bak tebing gundul yang jika salah atau ngesot bisa terjatuh hingga kaki bukit.

Akhirnya Pukul 17:15 Team MTMT dalam misi Explore Pulau Semau sampai di Bukit Pantai Liman, Destinasi terakhir dalam Ekspedisi ini. Matahari di ufuk barat makin rendah Cakrawala semakin memerah, batas horison pun semakin pudar terlihat suasana mulai terasa sendu saat menjelang terbenamnya matahari. Sementara itu Team Ekspedisi terus mengambil gambar-gambar terbaik saat momen Sunset di Bukit Liman - Pulau Semau. Berbagai posisi dan gaya sudah dipotret berlatar belakang pantai Liman dan Sunset, saya pun tak mau ketinggalan segera mengambil kesempatan membuat dokumentasi Panorama Sunset dari Pantai Liman.

Jam di Gadged kami telah menjunjukkan Pukul 17:58, batas pandang juga sudah mulai samar sementara matahari telah lama meningalkan Cakrawala kembali ke peraduannya disaat itu kami tersadar untuk segera bergegas menuruni Bukit Liman karena hari mulai gelap.



Dengan sangat hati-hati seluruh anggota Team mengarahkan 3 unit sepeda motor sambil berboncengan menuruni bukit Liman yang tinggi ini sambil berdo'a semoga selamat sampai di kaki bukit.

Setelah menuruni bukit Liman Team kembali menyusuri jalan Pantai Liman yang berpasir menuju kembali ke Pelabuhan di Hansisi untuk kembali pulang ke Kota Kupang. Jika siang sampai sore kita Mengeksplore pantai-pantai di pulau Semau kini saatnya malam hari harus menyusuri jalan dari Pantai Liman hingga Hansisi dalam suasana gelap gulita karena apa mungkin karena kebetulan pada malam minggu (08/10/2016) listrik di pulau semau sedang padam sedangkan jalan-jalan di sepanjang pulau ini sedari perjalanan pulang menuju dermaga sangat sepi bahkan hitungan saya selama perjanan tidak sampai 20 sepeda motor dan 1 unit mobil pick-up sebagai sarana transportasi di pulau semau ini yang berpapasan dengan kita.

Lama Perjalanan Pulang dari Pantai Bukit Liman hingga Dermaga Hansisi ditempuh dengan 1 Jam 35 menit dan sesampainya di dermaga kami langsung disambut Pengemudi Perahu yang mengantar kita dari Pelabuhan Tenau siang tadi sudah menunggu kita untuk memulangkan kembali pelabuhan Nusa Lontar Tenau Kupang. Sepeda motor yang kami gunakan langsung diangkut ke atas perahu untuk segera berlayar kembali ke Kupang.

Demikian Teman-Teman Tapaleuk yang setia membaca blog ini semoga cerita ini menjadi referensi jika ingin berkunjung ke pulau semau yang indah ini.

Sampai Jumpa di Trip berikutnya salam MTMT (My Trip My Tapaleu, Tapaleuk yang bermanfaat.....).